Antibiotik berasal dari
bahasa latin yang terdiri dari anti = lawan, bios = hidup. Adalah
zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah,
yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain,
sedangkan toksisitasnya(racun) terhadap manusia relatif kecil.
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris Dr.Alexander
Flemming yaitu antibiotik Penisilin pada tahun 1982 di London. Tetapi
penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan dalam terapi pada tahun
1941 oleh Dr. Florey. Kemudian banyak zat dengan khasiat antibiotik
diisolir oleh penyelidik-penyelidik lain diseluruh dunia, namun
toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat.
Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis, atau semi sintetis.
Aktivitas antibiotik umumnya dinyatakan dalam satuan berat (mg) kecuali
yang belum sempurna pemurniannya dan terdiri dari campuran beberapa
macam zat, atau karena belum diketahui struktur kimianya, aktivitasnya
dinyatakan dalam satuan internasional = Internasional Unit (IU).
Dibidang peternakan antibiotic sering dimanfaatkan sebagai zat gizi
tambahan untuk mempercepat pertumbuhan ayam negeri potong.
Farmakologi ( Antibiotik )
Rabu, 09 September 2015
Fungsi Antibiotik
Mengobati infeksi kulit karena bakteri dan jamur
Infeksi kulit merupakan gangguan yang umum terjadi pada segala jenis usia, anak-anak hingga orang tua. Masalah kulit bisa disembuhkan dengan antibiotik seperti penisilin. Akan tetapi terkadang gangguan ini bisa sembuh dengan sendirinya. Gejala munculnya infeksi ini antara lain, timbulnya benjolan berisi cairan pada kulit yang disertai dengan ruam kemerahan, rasa pedih, sakit, dan panas.
Infeksi jenis ini gampang menular pada siapa saja. Untuk mencegah gangguan ini, sebaiknya :
Infeksi ini lebih sering terjadi pada wanita daripada kaum lelaki. Penyebabnya adalah karena adanya bakteri yang bersarang pada saluran kemih. Infeksi ini mudah diobati dalam jangka waktu pendek dengan menggunakan antibiotik seperti penisilin, namun jika dalam dua hingga tiga hari belum sembuh, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjut oleh tenaga medis.
Gejala infeksi ini antara lain adalah dengan timbulnya rasa terbakar saat sedang buang air kecil atau bisa juga ditandai dengan seringnya buang air kecil yang disertai rasa nyeri yang kuat.
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
Meningitis adalah infeksi yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri perlu diobati dengan manfaat antibiotik seperti sefalosporin, aminoglikosida maupun tindakan lanjut oleh pihak medis. Gejala yang dialami penderita antara lain :
Penyakit ini disebabkan bakteri yang masuk ke dalam aliran darah. Penggunaan antibiotik seperti sefalosporin merupakan langkah awal untuk mengobati penyakit ini. Untuk selanjutnya dapat dilakukan tindakan sesuai dengan penyebab dan adanya komplikasi.
Penyakit ini terkadang tidak memperlihatkan gejala. Sementara gejala umum yang biasa terlihat dari penderita antara lain :
Jerawat merupakan gangguan kulit yang tak bisa disembuhkan, karena ia bisa muncul kapan saja. Yang bisa dilakukan adalah bagaimana cara menghilangkan jerawat dan melakukan pencegahan agar ia tidak muncul lagi.
6. Mengobati infeksi lambung
Infeksi lambung merupakan salah satu penyakit kronis yang menyerang organ tubuh pada bagian lambung. Gejala yang dirasakan oleh penderita biasanya adalah :
Jenis penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri yang menyerang paru-paru. Gejalanya antara lain :
Infeksi kulit merupakan gangguan yang umum terjadi pada segala jenis usia, anak-anak hingga orang tua. Masalah kulit bisa disembuhkan dengan antibiotik seperti penisilin. Akan tetapi terkadang gangguan ini bisa sembuh dengan sendirinya. Gejala munculnya infeksi ini antara lain, timbulnya benjolan berisi cairan pada kulit yang disertai dengan ruam kemerahan, rasa pedih, sakit, dan panas.
Infeksi jenis ini gampang menular pada siapa saja. Untuk mencegah gangguan ini, sebaiknya :
- Cucilah tangan secara teratur dengan sabun dan air setelah beraktivitas, maupun berinteraksi dengan sumber bakteri maupun jamur.
- Mandi secara teratur untuk menghilangkan kuman dan bakteri yang menempel di kulit.
- Hindari pemakaian barang-barang seperti handuk, baju, peralatan makan, maupun yang lainnya secara bersama-sama.
- Selalu memakai sandal saat ke kamar mandi, karena kamar mandi merupakan sarang kuman.
Infeksi ini lebih sering terjadi pada wanita daripada kaum lelaki. Penyebabnya adalah karena adanya bakteri yang bersarang pada saluran kemih. Infeksi ini mudah diobati dalam jangka waktu pendek dengan menggunakan antibiotik seperti penisilin, namun jika dalam dua hingga tiga hari belum sembuh, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjut oleh tenaga medis.
Gejala infeksi ini antara lain adalah dengan timbulnya rasa terbakar saat sedang buang air kecil atau bisa juga ditandai dengan seringnya buang air kecil yang disertai rasa nyeri yang kuat.
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
- Jangan menunda saat ingin buang air kecil.
- Bersihkan daerah organ intim secara rutin, terutama setelah melakukan hubungan intim.
- Banyak konsumsi air putih
- Bagi yang telah mengalami gangguan ini, hindarilah penggunaan kontrasepsi diafragma.
Meningitis adalah infeksi yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang. Meningitis yang disebabkan oleh bakteri perlu diobati dengan manfaat antibiotik seperti sefalosporin, aminoglikosida maupun tindakan lanjut oleh pihak medis. Gejala yang dialami penderita antara lain :
- mengalami sakit kepala yang parah
- muntah
- demam
- kaku di leher
- gangguan penglihatan
- timbulnya ruam pada kulit
- Mencuci tangan sebelum dan setelah makan, setelah ke toilet, maupun selepas memegang hewan piaraan dan benda-benda kotor lainnya.
- Konsumsi makanan bergizi seperti manfaat sayur-sayuran dan buah
- Menjaga stamina tubuh dengan manfaat olahraga secara teratur
- Pemberian vaksin meningitis
Penyakit ini disebabkan bakteri yang masuk ke dalam aliran darah. Penggunaan antibiotik seperti sefalosporin merupakan langkah awal untuk mengobati penyakit ini. Untuk selanjutnya dapat dilakukan tindakan sesuai dengan penyebab dan adanya komplikasi.
Penyakit ini terkadang tidak memperlihatkan gejala. Sementara gejala umum yang biasa terlihat dari penderita antara lain :
- Demam tinggi
- menggigil
- mual
- muntah
- diare
- nyeri perut
- sedak nafas
- denyut jantung lebih cepat
- gelisah
Jerawat merupakan gangguan kulit yang tak bisa disembuhkan, karena ia bisa muncul kapan saja. Yang bisa dilakukan adalah bagaimana cara menghilangkan jerawat dan melakukan pencegahan agar ia tidak muncul lagi.
6. Mengobati infeksi lambung
Infeksi lambung merupakan salah satu penyakit kronis yang menyerang organ tubuh pada bagian lambung. Gejala yang dirasakan oleh penderita biasanya adalah :
- Mual dan sering muntah
- nyeri pada perut
- nafsu makan menurun secara drastis
- wajah pucat
- suhu badan naik
- keluar keringat dingin
- sering sendawa terutama bila dalam keadaan lapar
- sulit tidur
- kepala terasa pusing
- pendarahan
Jenis penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri yang menyerang paru-paru. Gejalanya antara lain :
- batuk
- nyeri pada dada
- demam
- sulit bernafas
Jenis-Jenis Antibiotik
1. Penisilin (Penicillins)
Penisilin atau antibiotik beta-laktam adalah kelas antibiotik yang merusak dinding sel bakteri saat bakteri sedang dalam proses reproduksi.
Penisilin adalah kelompok agen bakterisida yang terdiri dari penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin, amoksisilin, dan nafsilin.
Antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berkaitan dengan kulit, gigi, mata, telinga, saluran pernapasan, dll.
Sebagian orang mungkin mengalami alergi terhadap penisilin dengan keluhan ruam atau demam karena hipersensitivitas terhadap antibiotik.
Seringkali penisilin diberikan dalam kombinasi dengan berbagai jenis antibiotik lainnya.
2. Sefalosporin (Cephalosporins)
Sefalosporin, seperti penisilin, bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi.Namun, antibiotik ini mampu mengobati berbagai infeksi bakteri yang tidak dapat diobati dengan penisilin, seperti meningitis, gonorrhea, dll.
Dalam kasus dimana orang sensitif terhadap penisilin, maka sefalosporin bisa diberikan sebagai alternatif.
Namun, dalam banyak kasus, ketika seseorang alergi terhadap penisilin, maka kemungkinan besar dia akan alergi terhadap sefalosporin juga.
Ruam, diare, kejang perut, dan demam adalah efek samping dari antibiotik ini.
3. Aminoglikosida (Aminoglycosides)
Jenis antibiotik ini menghambat pembentukan protein bakteri.
Karena efektif dalam menghambat produksi protein bakteri, aminoglikosida diberikan antara lain untuk mengobati tifus dan pneumonia.
Meskipun efektif dalam mengobati bakteri penyebab infeksi, terdapat risiko bakteri semakin tahan terhadap antibiotik ini.
Aminoglikosida juga diberikan dalam kombinasi dengan penisilin atau sefalosporin.
Aminoglikosida efektif mengendalikan dan mengobati infeksi bakteri, namun berpotensi melemahkan ginjal dan fungsi hati.
4. Makrolida (Macrolides)
Sama seperti sebelumnya, antibiotik ini mengganggu pembentukan protein bakteri.
Makrolida mencegah biosintesis protein bakteri dan biasanya diberikan untuk mengobati pasien yang sangat sensitif terhadap penisilin.
Makrolida memiliki spektrum lebih luas dibandingkan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran lambung, dll.
Ketidaknyamanan pencernaan, mual, dan diare adalah beberapa efek samping dari makrolida.
Selain itu, wanita hamil dan menyusui tidak boleh mengonsumsi makrolida.
5. Sulfonamida (Sulfonamides)
Obat ini efektif mengobati infeksi ginjal, namun sayangnya memiliki efek berbahaya pada ginjal.
Untuk mencegah pembentukan kristal obat, pasien harus minum sejumlah besar air. Salah satu obat sulfa yang paling sering digunakan adalah gantrisin.
6. Fluoroquinolones
Fluoroquinolones adalah satu-satunya kelas antibiotik yang secara langsung menghentikan sintesis DNA bakteri.
Karena dapat diserap dengan sangat baik oleh tubuh, fluoroquinolones dapat diberikan secara oral.
Antibiotik ini dianggap relatif aman dan banyak digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih dan saluran pernapasan.
Namun, fluoroquinolones diduga mempengaruhi pertumbuhan tulang. Itu sebab, obat ini tidak direkomendasikan untuk wanita hamil atau anak-anak.
Efek samping yang sering timbul meliputi mual, muntah, diare, dll
7. Tetrasiklin (tetracyclines) dan polipeptida (polypeptides)
Tetrasiklin adalah antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan, saluran kemih, dll.
Pasien dengan masalah hati harus hati-hati saat mengambil tetrasiklin karena dapat memperburuk masalah.
Polipeptida dianggap cukup beracun sehingga terutama digunakan pada permukaan kulit saja.
Ketika disuntikkan ke dalam kulit, polipeptida bisa menyebabkan efek samping seperti kerusakan ginjal dan saraf.[]
Penisilin atau antibiotik beta-laktam adalah kelas antibiotik yang merusak dinding sel bakteri saat bakteri sedang dalam proses reproduksi.
Penisilin adalah kelompok agen bakterisida yang terdiri dari penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin, amoksisilin, dan nafsilin.
Antibiotik ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berkaitan dengan kulit, gigi, mata, telinga, saluran pernapasan, dll.
Sebagian orang mungkin mengalami alergi terhadap penisilin dengan keluhan ruam atau demam karena hipersensitivitas terhadap antibiotik.
Seringkali penisilin diberikan dalam kombinasi dengan berbagai jenis antibiotik lainnya.
2. Sefalosporin (Cephalosporins)
Sefalosporin, seperti penisilin, bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi.Namun, antibiotik ini mampu mengobati berbagai infeksi bakteri yang tidak dapat diobati dengan penisilin, seperti meningitis, gonorrhea, dll.
Dalam kasus dimana orang sensitif terhadap penisilin, maka sefalosporin bisa diberikan sebagai alternatif.
Namun, dalam banyak kasus, ketika seseorang alergi terhadap penisilin, maka kemungkinan besar dia akan alergi terhadap sefalosporin juga.
Ruam, diare, kejang perut, dan demam adalah efek samping dari antibiotik ini.
3. Aminoglikosida (Aminoglycosides)
Jenis antibiotik ini menghambat pembentukan protein bakteri.
Karena efektif dalam menghambat produksi protein bakteri, aminoglikosida diberikan antara lain untuk mengobati tifus dan pneumonia.
Meskipun efektif dalam mengobati bakteri penyebab infeksi, terdapat risiko bakteri semakin tahan terhadap antibiotik ini.
Aminoglikosida juga diberikan dalam kombinasi dengan penisilin atau sefalosporin.
Aminoglikosida efektif mengendalikan dan mengobati infeksi bakteri, namun berpotensi melemahkan ginjal dan fungsi hati.
4. Makrolida (Macrolides)
Sama seperti sebelumnya, antibiotik ini mengganggu pembentukan protein bakteri.
Makrolida mencegah biosintesis protein bakteri dan biasanya diberikan untuk mengobati pasien yang sangat sensitif terhadap penisilin.
Makrolida memiliki spektrum lebih luas dibandingkan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran lambung, dll.
Ketidaknyamanan pencernaan, mual, dan diare adalah beberapa efek samping dari makrolida.
Selain itu, wanita hamil dan menyusui tidak boleh mengonsumsi makrolida.
5. Sulfonamida (Sulfonamides)
Obat ini efektif mengobati infeksi ginjal, namun sayangnya memiliki efek berbahaya pada ginjal.
Untuk mencegah pembentukan kristal obat, pasien harus minum sejumlah besar air. Salah satu obat sulfa yang paling sering digunakan adalah gantrisin.
6. Fluoroquinolones
Fluoroquinolones adalah satu-satunya kelas antibiotik yang secara langsung menghentikan sintesis DNA bakteri.
Karena dapat diserap dengan sangat baik oleh tubuh, fluoroquinolones dapat diberikan secara oral.
Antibiotik ini dianggap relatif aman dan banyak digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih dan saluran pernapasan.
Namun, fluoroquinolones diduga mempengaruhi pertumbuhan tulang. Itu sebab, obat ini tidak direkomendasikan untuk wanita hamil atau anak-anak.
Efek samping yang sering timbul meliputi mual, muntah, diare, dll
7. Tetrasiklin (tetracyclines) dan polipeptida (polypeptides)
Tetrasiklin adalah antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan, saluran kemih, dll.
Pasien dengan masalah hati harus hati-hati saat mengambil tetrasiklin karena dapat memperburuk masalah.
Polipeptida dianggap cukup beracun sehingga terutama digunakan pada permukaan kulit saja.
Ketika disuntikkan ke dalam kulit, polipeptida bisa menyebabkan efek samping seperti kerusakan ginjal dan saraf.[]
Efek Samping Antibiotik
- Infeksi organ intim. Hal ini biasanya terjadi pada wanita, dimana pemakaian antibiotik dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri candida secara berlebih. Dimana bakteri candida adalah sumber dari terjadinya keputihan. Biasanya ditandai dengan munculnya rasa gatal, keputihan, serta bau pada daerah vagina.
- Gangguan pencernakan. Hal yang paling umum terjadi akibat mengkonsumsi obat dalam jangka waktu yang panjang adalah terjadinya mual, diare, kram dan nyeri pada perut.
- Menimbulkan Alergi. Sebagian orang akan mengalami gejala ini, dimana terjadi gatal-gatal dan pembengkakakn di mulut, bibir dan tenggorokan. Terkadang muncul bintik-bintik pada kulit.
- Gangguan fungsi jantung. Gejalanya ditandai dengan merasakan jantung berdebar-debar.
- Sakit Kepala
- Berkurangnya nafsu makan
- Mengganggu sistem kekebalan tubuh. Beberapa jaringan tubuh seperti kulit, selaput lendir, dan usus merupakan tempat berkembang biaknya mikroorganisme dan bakteri yang baik bagi tubuh. Penggunaan antibiotik dalam jangka panjang dapat memberantas serta menghambat pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Hal tersebut akan berakibat tubuh kekurangan vitamin, terutama vitamin K dan vitamin B12, sehingga berdampak rentannya tubuh terhadap serangan penyakit menular.
- Penyakit kuning
- Timbulnya masalah pada ginjal
- Gangguan pada saraf, Misalnya seseorang akan merasa kesemutan
- Menimbulkan efek resistensi pada obat itu sendiri.
- Terlalu sering mengkonsumsi antibiotik dapat mengakibatkan efek resistensi terhadap jenis obat itu sendiri.
- Setelah pemakaian obat dihentikan, tidak menutup kemungkinan suatu saat orang tersebut akan terkena kembali penyakit yang sama.
- Dan pada saat ia mengkonsumsi antibiotik yang sama seperti sebelumnya, ternyata antibiotik itu tidak mempan lagi membantu meredakan sakit yang dideritanya.
- Akhirnya ia memerlukan antibiotik dengan dosis yang lebih tinggi.
- Menimbulkan gangguan penyakit yang lebih serius. Penggunaan
antibiotik dalam jangka waktu yang lama perlu diwaspadai, karena dapat
menimbulkan gejala-gejala gangguan fungsi organ tubuh yang lebih serius,
misalnya,
- gangguan pada fungsi hati,
- kerusakan hati,
- penurunan jumlah produksi sel darah putih,
- terjadinya gangguan fungsi otak,
- gangguan fungsi jantung,
- koma,
- pembengkakan dan
- iritasi pada usus besar,
- Seperti halnya bahaya etanol, kebocoran pada usus bahkan bisa berakibat pada kematian.
Antibiotik yang sering digunakan
Jakarta, Selain 'ribet' cara pakainya, antibiotik juga
susah diingat namanya. Beberapa pasien bahkan tak bisa membedakan obat
mana yang termasuk antibiotik, mana yang bukan. Tapi setidaknya ada 5 antibiotik paling ngetop yang sering dipakai masyarakat.
Begitu banyaknya jenis antibiotik yang ada tidak hanya membingungkan pasien, kadang dokter yang meresepkan juga ikut bingung. Bukan tidak mungkin karena tidak tahu pasti antibiotik apa yang harus digunakan, maka langsung dipilih yang paling ampuh.
Padahal menurut ketua umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Drs M Dany Pratomo, MM, Apt, pemilihan antibiotik tidak boleh sembarangan. Idealnya memang harus definitif sesuai kuman penyebab infeksinya dan harus dimulai dari jenis yang paling sederhana.
"Saat meresepkan antibiotik, dokter punya standar. Dimulai dari yang paling sederhana, kalau nggak mempan baru pakai generasi terbaru. Kalau langsung diberi yang paling mutakhir, itu seperti membunuh nyamuk pakai bom," kata Drs Dany saat dihubungi detikHealth seperti ditulis Rabu (5/9/2012).
Pemilihan antibiotik yang tidak rasional kadang bukan kemauan dokter, tetapi tekanan pasien yang merasa punya uang dan ingin diberi obat paling manjur. Akhirnya dokter memilihkan obat bukan berdasarkan standar baku, tetapi hanya untuk menyenangkan pasiennya.
Agar pasien juga tidak rewel ataupun salah pakai karena tidak tahu jenis-jenis antibiotik, ada baiknya kenali 5 jenis antibiotik yang paling sering dipakai di masyarakat berikut ini:
1. Amoxicillin
Amoxicillin merupakan antibiotik golongan penicillin, lebih spesifik lagi termasuk kelompok aminopenicillin seperti halnya jenis antibiotik populer lainnnya yakni ampicilin. Penggunaannya sangat luas, mulai dari untuk obati infeksi kulit, gigi, telinga, saluran napas dan saluran kemih.
2. Cefadroxil
Cefadroxil merupakan generasi pertama antibiotik golongan Cephalosphorin, yang cara kerjanya hampir sama dengan Amoxicillin dan antibiotik lain di golongan penicillin. Penggunaannya juga sama luas, mulai untuk mengobati dari infeksi kulit hingga saluran kemih.
3. Erythromicyn
Erythromicin merupakan antibiotika golongan makrolid yang sering diberikan pada pasien yang alergi penicillin. Penggunaannya lebih luas dari penicillin maupun cephalosphorin, sehingga sering dipakai sebagai pilihan pertama untuk pengobatan pneumonia atipik.
4. Ciprofloxacin
Ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan floroquinolon, salah satu jenis antibiotik paling mutakhir saat ini. Penggunaannya antara lain untuk mengobati infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas (sinusitis, pneumonia, bronkitis) dan juga infeksi kulit.
5. Tetrasiklin
Di kalangan pekerja seks, tetrasiklin cukup populer karena jenis antibiotika ini paling sering jadi pilihan utama untuk mengobati infeksi kelamin seperti chlamydia dan gonorrhea atau kencing nanah. Penggunaan antibiotik jenis ini mulai dibatasi, karena memicu masalah resistensi yang membuat kuman gonorrhea jadi kebal antibiotik.
(up/ir)
Begitu banyaknya jenis antibiotik yang ada tidak hanya membingungkan pasien, kadang dokter yang meresepkan juga ikut bingung. Bukan tidak mungkin karena tidak tahu pasti antibiotik apa yang harus digunakan, maka langsung dipilih yang paling ampuh.
Padahal menurut ketua umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Drs M Dany Pratomo, MM, Apt, pemilihan antibiotik tidak boleh sembarangan. Idealnya memang harus definitif sesuai kuman penyebab infeksinya dan harus dimulai dari jenis yang paling sederhana.
"Saat meresepkan antibiotik, dokter punya standar. Dimulai dari yang paling sederhana, kalau nggak mempan baru pakai generasi terbaru. Kalau langsung diberi yang paling mutakhir, itu seperti membunuh nyamuk pakai bom," kata Drs Dany saat dihubungi detikHealth seperti ditulis Rabu (5/9/2012).
Pemilihan antibiotik yang tidak rasional kadang bukan kemauan dokter, tetapi tekanan pasien yang merasa punya uang dan ingin diberi obat paling manjur. Akhirnya dokter memilihkan obat bukan berdasarkan standar baku, tetapi hanya untuk menyenangkan pasiennya.
Agar pasien juga tidak rewel ataupun salah pakai karena tidak tahu jenis-jenis antibiotik, ada baiknya kenali 5 jenis antibiotik yang paling sering dipakai di masyarakat berikut ini:
1. Amoxicillin
Amoxicillin merupakan antibiotik golongan penicillin, lebih spesifik lagi termasuk kelompok aminopenicillin seperti halnya jenis antibiotik populer lainnnya yakni ampicilin. Penggunaannya sangat luas, mulai dari untuk obati infeksi kulit, gigi, telinga, saluran napas dan saluran kemih.
2. Cefadroxil
Cefadroxil merupakan generasi pertama antibiotik golongan Cephalosphorin, yang cara kerjanya hampir sama dengan Amoxicillin dan antibiotik lain di golongan penicillin. Penggunaannya juga sama luas, mulai untuk mengobati dari infeksi kulit hingga saluran kemih.
3. Erythromicyn
Erythromicin merupakan antibiotika golongan makrolid yang sering diberikan pada pasien yang alergi penicillin. Penggunaannya lebih luas dari penicillin maupun cephalosphorin, sehingga sering dipakai sebagai pilihan pertama untuk pengobatan pneumonia atipik.
4. Ciprofloxacin
Ciprofloxacin merupakan antibiotik golongan floroquinolon, salah satu jenis antibiotik paling mutakhir saat ini. Penggunaannya antara lain untuk mengobati infeksi saluran kemih, infeksi saluran napas (sinusitis, pneumonia, bronkitis) dan juga infeksi kulit.
5. Tetrasiklin
Di kalangan pekerja seks, tetrasiklin cukup populer karena jenis antibiotika ini paling sering jadi pilihan utama untuk mengobati infeksi kelamin seperti chlamydia dan gonorrhea atau kencing nanah. Penggunaan antibiotik jenis ini mulai dibatasi, karena memicu masalah resistensi yang membuat kuman gonorrhea jadi kebal antibiotik.
(up/ir)
Selasa, 08 September 2015
Infeksi Akibat Kelebihan Antibiotik
Philadelphia, Penggunaan antibiotik yang tidak
terkontrol lagi-lagi menimbulkan akibat fatal. Tak cuma tubuh kebal
terhadap si antibiotik, tapi kelebihan antibiotik juga menimbulkan
infeksi Staphylococcus yang tidak bisa disembuhkan.
Infeksi tersebut dinamakan VRSA (vancomycin-resistant Staphylococcus aureus). Selama ini penyakit infeksi Staphylococcus yang paling berbahaya adalah MRSA.
Seorang pasien dari Pennsylvania Hospital diketahui memiliki bentuk infeksi yang jarang dari Staph akibat penggunaan antibiotik secara berlebihan.
Pasien tersebut adalah seorang perempuan yang saat ini tengah menjalani dialisis ginjal. Petugas rumah sakit mengungkapkan bahwa perempuan ini tidak terinfeksi bakteri tersebut di rumah sakit milik University of Pennsylvania.
Para ahli mengatakan kasus langka ini disebabkan oleh penggunaan berlebihan antibiotik tingkat tinggi seperti vankomisin, dokter sering menggunakan obat ini jika pasien sudah gagal menggunakan obat lain.
Akibat penggunaan yang berlebihan, maka bakteri menjadi kebal atau mampu bertahan dengan serangan vankomisin. Obat ini biasanya digunakan untuk membantu melindungi pasien yang lemah atau ginjalnya tidak berfungsi dari serangan infeksi bakteri.
"VRSA tidak pernah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Namun akibat infeksi ini bisa memicu munculnya resistensi pada pasien untuk mengembangkan dua infeksi yang lebih umum seperti MRSA dan resisten bakteri yang dikenal sebagai vancomycin-resistant Enterococcus atau VRE," ujar Neil Fishman, seorang dokter ahli penyakit menular, seperti dikutip dari The Philadelphia Inquirer, Jumat (9/4/2010).
Fishman menambahkan gen resistensi vancomysin dari VRE ditransfer ke MRSA sehingga bisa memicu timbulnya infeksi VRSA.
"Dengan melakukan cuci tangan bisa membatasi penyebaran berbagai macam infeksi. Dengan melakukan tindakan yang tepat, kemungkinan penyebaran bakteri VRSA ini tidak menyebar luas," ujar Dr Deena Athas dari Thomas Jefferson University.
Semua bakteri VRSA memiliki gen vanA. Kebanyakan pasien yang positif VRSA sebelumnya memiliki sejarah yang disebabkan oleh infeksi MRSA dan VRE yang juga mengandung gen vanA.
Gen vanA ini dipindahkan melalui plasmid (molekul DNA sirkuler di luar kromosom) dari VRE ke strain MRSA. Gejala yang ditimbulkan hampir sama dengan infeksi Staphylococcus aureus lainnya dan berkisar pada infeksi kulit ringan, sepsis dan infeksi organ dalam.
Hingga kini belum ada daftar resmi antibiotik apa yang efektif untuk melawan VRSA, jadi setiap antibiotik harus dilakukan uji kerentanan pada sampel yang terinfeksi.
(ver/ir)
Infeksi tersebut dinamakan VRSA (vancomycin-resistant Staphylococcus aureus). Selama ini penyakit infeksi Staphylococcus yang paling berbahaya adalah MRSA.
Seorang pasien dari Pennsylvania Hospital diketahui memiliki bentuk infeksi yang jarang dari Staph akibat penggunaan antibiotik secara berlebihan.
Pasien tersebut adalah seorang perempuan yang saat ini tengah menjalani dialisis ginjal. Petugas rumah sakit mengungkapkan bahwa perempuan ini tidak terinfeksi bakteri tersebut di rumah sakit milik University of Pennsylvania.
Para ahli mengatakan kasus langka ini disebabkan oleh penggunaan berlebihan antibiotik tingkat tinggi seperti vankomisin, dokter sering menggunakan obat ini jika pasien sudah gagal menggunakan obat lain.
Akibat penggunaan yang berlebihan, maka bakteri menjadi kebal atau mampu bertahan dengan serangan vankomisin. Obat ini biasanya digunakan untuk membantu melindungi pasien yang lemah atau ginjalnya tidak berfungsi dari serangan infeksi bakteri.
"VRSA tidak pernah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Namun akibat infeksi ini bisa memicu munculnya resistensi pada pasien untuk mengembangkan dua infeksi yang lebih umum seperti MRSA dan resisten bakteri yang dikenal sebagai vancomycin-resistant Enterococcus atau VRE," ujar Neil Fishman, seorang dokter ahli penyakit menular, seperti dikutip dari The Philadelphia Inquirer, Jumat (9/4/2010).
Fishman menambahkan gen resistensi vancomysin dari VRE ditransfer ke MRSA sehingga bisa memicu timbulnya infeksi VRSA.
"Dengan melakukan cuci tangan bisa membatasi penyebaran berbagai macam infeksi. Dengan melakukan tindakan yang tepat, kemungkinan penyebaran bakteri VRSA ini tidak menyebar luas," ujar Dr Deena Athas dari Thomas Jefferson University.
Semua bakteri VRSA memiliki gen vanA. Kebanyakan pasien yang positif VRSA sebelumnya memiliki sejarah yang disebabkan oleh infeksi MRSA dan VRE yang juga mengandung gen vanA.
Gen vanA ini dipindahkan melalui plasmid (molekul DNA sirkuler di luar kromosom) dari VRE ke strain MRSA. Gejala yang ditimbulkan hampir sama dengan infeksi Staphylococcus aureus lainnya dan berkisar pada infeksi kulit ringan, sepsis dan infeksi organ dalam.
Hingga kini belum ada daftar resmi antibiotik apa yang efektif untuk melawan VRSA, jadi setiap antibiotik harus dilakukan uji kerentanan pada sampel yang terinfeksi.
(ver/ir)
Sebab Kegagalan Terapi
Hal ini terjadi karena :
1. Dosis kurang, dosis tergantung dari kumanpenyebab dan tempat infeksi. Walaupun kumanpenyebabnya sama, Penisilin G untukmengobati meningitis oleh pneumococcus jauhlebih tinggi daripada pengobatan infeksi salurannafas bagian bawah oleh kuman yang sama
2. Masa terapi kurang
3. Faktor mekanik. Abses, jaringan nekrotik, batusaluran kemih, mukus yang banyak. Tindakanuntuk mengatasi faktor mekanik meliputipencucian luka, insisi dll
4. Kesalahan menetapkan etiologi. Demam tidakselalu bakteri, bisa saja virus, jamur, parasit,reaksi obat, peningkatan suhu badan.
5. Farmakokinetik. Tidak semua tubuh dapatditembus oleh antibiotik, contohnya prostat
6. Pilihan obat yang tidak tepat. Obat terpilihuntuk Streptococcus foecalis adalah ampicillinwalaupun secara in vitro kuman juga sensitif terhadap sefamandol/gentamisin.
7. Pasien. Mengalami gangguan imunitas seluler dan humoral, penyakit AIDS, agamaglobulinkongenital, obat sitostatik.
Langganan:
Komentar (Atom)